Sektarian Sebagai Prosperator Radikalisme (Bag. I)

Konflik berkepanjangan yang terjadi di Timur Tengah telah menumbuh-suburkan kelompok-kelompok radikalis-ekstrimis. Bahkan setelah bertahun-tahun, ISIS masih menjadi hot issues yang terus dinamis. Tak ayal lagi, kita perlu belajar dari kasus-kasus terkait.

Ini mengingat peristiwa radikalisme di sebuah negara tidak bisa dipandang sebagai sebuah persoalan bagi negara bersangkutan saja. Sebagai sebuah warga yang hidup di ‘desa global’, sudah pasti kita akan terkena dampaknya. Apalagi, sebagai bangsa, kita masih memiliki pekerjaan rumah menuntaskan persoalan radikalisme yang pernah dan masih hadir di negeri ini. Ada suatu kata kunci yang menjadi penyebab munculnya radikalisme, yaitu sikap masyarakat dan kekuasaan yang sektarian, sebagaimana menimpa kaum Sunni di Irak.

Beberapa hari setelah ISIS menguasai Mosul, pada 10 Juni 2014, masyarakat internasional dikejutkan laporan adanya penyiksaan dan pengusiran paksa oleh ISIS terhadap kaum Nasrani dan Yazidi di Provinsi Ninawa Irak Utara. Laporan ini sekaligus mengingatkan nasib buruk yang telah dialami warga Sunni Irak selama lebih dari 11 tahun terakhir ini. Nasib buruk itu sudah dimulai sejak 2003, ketika pasukan AS dan sekutunya menginvasi Irak. Bagi AS, warga Sunni di Irak dianggap berdosa lantaran dianggap mendukung rezim Saddam Husein.

Penderitaan tersebut semakin panjang dan parah, karena juga dilakukan pasukan Pemerintah Irak dari sejak era PM Ibrahim al-Ja’fari, Ayad Allawi, dan kemudian PM Nuri al-Maliki yang dibantu oleh milisi-milisi radikal Syiah. Pemerintah Baghdad bukannya melibatkan kelompok-kelompok Sunni dalam pemerintahan bersatu, tapi malah menganggapnya sebagai musuh.

Sejak itu, warga Sunni merasa diperlakukan dengan tidak adil, baik yang menyangkut akses sosial-budaya, partisipasi politik, maupun pendidikan dan perlindungan keamanan. Aksi-aksi unjuk rasa damai, menuntut keadilan, oleh pemerintah dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintah dan dihadapi dengan kekerasan. Ini misalnya pada April 2013, satuan polisi dan tentara menyerang aksi unjuk rasa damai di al-Huwaijah yang menyebabkan 91 orang meninggal dunia dan 254 luka-luka.

Akibat dari semua itu, banyak warga Sunni yang kemudian mengungsi ke provinsi-provinsi yang mayoritas penduduknya Sunni atau hijrah keluar dari Irak. Kekecewaan warga Sunni terhadap pemerintahan pusat inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok radikal seperti ISIS. Pada awalnya, ISIS memperlihatkan perlindungan kepada kelompok-kelompok Sunni untuk menghadapi hegemoni pemerintah di Baghdad yang didominasi Syiah. ISIS sendiri juga berideologi Sunni. Kekecewaan ini pula yang kemudian dimanfaatkan oleh Alqaida untuk dapat eksis di Irak dan Suriah dengan nama bermacam-macam, seperti Jabhat al-Nusra dan Ahrar al-Sham, yang kemudian merekrut ribuan pemuda, yang kecewa terhadap PM Nuri al-Maliki dan rezim Basyar Assad,  untuk bergabung.

Jumlah warga Sunni di Irak, sebagaimana dilansir Aljazirah, yang telah bergabung atau menjadi simpatisan ISIS sebenarnya sangat minoritas. Yang terbanyak justru yang moderat sebagaimana ciri khas Aswaja. Tentu saja, jika pemerintahan mampu merangkul mereka, ISIS akan mudah dipatahkan. Inilah yang diakui oleh Kepala Staf Gabungan Pasukan AS, Martin Dempsey. Ia menyatakan, salah satu kunci penyelesaian persoalan ISIS adalah terletak pada warga Sunni. ISIS bisa runtuh ketika 20 juta warga Sunni Irak yang hidup menderita menolak keberadaan ISIS.

Intinya, kita sebagai sebuah rakyat dan kekuasaan harus melibatkan semua komponen masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kekuasaan yang didominasi kelompok-kelompok tertentu dan mengabaikan kelompok lain justru akan menimbulkan sakit hati. Sakit hati yang kemudian bisa berubah menjadi konflik dan perlawanan yang akan menumbuh-suburkan bibit-bibit radikalisme.

 

–Oleh sebab itu, dengan belajar dari krisis Suriah, kita rakyat Indonesia wajib menjaga keutuhan bangsa, dan pemimpin kita jangan berlagak pilon. Jika kita tidak pandai-pandai memelihara dan menjaga bangsa ini, tidak ada jaminan bahwa Indonesia akan tetap utuh untuk selama-lamanya. Percikan api neraka Suriah jangan sampai menjalar ke bagian dunia lainnya. Semoga.

About

View all posts by