Sektarian Sebagai Prosperator Radikalisme (Bag. II)

 Pasca penguasaan ISIS atas Mosul dan pemenggalan kepala atau penyembelihan oleh ISIS terhadap beberapa tahanan orang Barat, dimulai dengan wartawan James Foley dari Amerika Serikat disertai kemunculan gambar dan video yang beredar di seluruh dunia, selama musim panas dan gugur 2014, orang-orang mulai terkejut dan bertanya, “Dari mana ISIS berasal, dan bagaimana ia bisa membuat begitu banyak kerusakan dalam periode yang relatif singkat.” Ini mirip dengan situasi ketika Vietcong mendadak muncul dengan panji baru dan mengepung sebagian kawasan Asia Tenggara pada 1985, menimbulkan kegemparan dan menjadi sensasional karena lahir dari gerakan pemberontakan gerilya yang tak jelas asal usulnya, membuat keterkejutan mulai dari administrasi Reagan hingga CNN.

Pertanyaan di atas mempunyai keganjilan di satu sisi, sebab Amerika Serikat selama ini berperang melawan ISIS selama beberapa dekade yang lalu dalam bentuk yang berbeda, seperti al-Qaeda di Irak (AQI), kemudian Majlis Syuro Mujahidin, dan Negara Islam Irak (ISI). Lebih dekat lagi, kemunculan ISIS, sebagaimana juga kelompok-kelompok ekstrimis lain, tidak lain merupakan implikasi atas perilaku sektarian rezim Irak sejak era PM Ibrahim al-Ja’fari, Ayad Allawi, dan kemudian Nuri al-Maliki dan pembersihan etnis oleh milisi-milisi radikal Syiah terhadap masyarakat Sunni di kawasan tersebut. Sejak itu, warga Sunni merasa diperlakukan dengan tidak adil, baik yang menyangkut akses sosial-budaya, partisipasi politik, maupun pendidikan dan perlindungan keamanan.

Al-Maliki secara khusus mendefinisikan ancaman di Irak pasca-Amerika berasal dari bias sektarian dan politiknya sendiri. Anggota-anggota Sahwah (kebangkitan), yang sebelumnya memerangi Pasukan Keamanan Irak atau milisi Syiah, dianggap sebagai penjahat sesungguhnya, bukan yang sebelumnya memerangi pasukan Amerika Serikat. Perpecahan sektarian seperti ini, termasuk yang terjadi di kalangan politisi, terbukti mempercepat apa yang dikenal sebagai Arab Spring—protes di kalangan Sunni di seluruh wilayah Irak—dan menimbulkan reaksi keras dari al-Maliki, yang justru memperburuk krisis.

Warna sektarian yang terjadi di Irak bisa dirunut sejak upaya yang dilakukan oleh Amerika Serikat dalam mengimplementasikan demokrasi yang mendadak dan menyebabkan kekuatan Irak berubah secara demografis; implementasi itu menghancurkan apa yang oleh banyak kalangan Sunni Irak sebagai hak-hak mereka. Ini bisa dilihat pada saat pasukan Amerika membentuk Dewan Pemerintahan, pada Juli 2003, dengan tiga belas orang Syiah dan hanya sedikit orang Sunni, orang mulai mengatakan, ‘Amerika ingin menyerahkan negeri ini kepada Syiah’. Mereka yang kecewa membiarkan pasukan-pasukan baru dan kelompok jihadis masuk. Mereka menganggapnya sebagai alat untuk mengusir Amerika dan memulihkan kekuasaan mereka.

Bunker Jadriya adalah contoh paling baik untuk mengetahui karakter dari sektarianisme “republik yang penuh kengerian” yang dibangun dari sisa-sisa reruntuhan rezim sebelumnya. Fasilitas tempat penahanan yang berada di sebelah selatan Green Zone, bunker milik Unit Interogasi Khusus, dijalankan oleh Basyir Nasr al-Wandi, yang dijuluki “Insinyur Ahmed”. Sebagai mantan operator intelijen senior untuk Korps Badr, Insinyur Ahmed, adalah orang kedua dalam jajaran Pasukan al-Quds milik Qasim Suleimani. Ketika tentara Amerika akhirnya merebut dan membuka penjara bawah tanah ini, mereka menemukan 168 tahanan yang ditutup matanya dengan kain, dan semuanya sudah ditahan selama tiga bulan dalam ruangan yang penuh dengan tinja dan air kencing. Hampir semua tahanan disitu adalah orang Sunni, dan banyak yang menunjukkan tanda bekas disiksa—bahkan sebagian sakit parah sehingga perlu mendapat perawatan di Green Zone.

Rick Welch bersaksi bahwa rezim Irak (al-Maliki) menindas Sunni sedimikian jauh sampai akhirnya mereka terpaksa bangkit melawan. Sementara Emma Sky, seorang mantan penasehat militer Amerika Serikat, menyatakan, “Perang Irak menggoncang keseimbangan kekuasaan di wilayah, dan kali ini lebih menguntungkan pihak Iran.” Persepsi tentang geopolitik ini, menurut Sky, menjelaskan salah satu alasan utama Sunni menjadi tertarik kepada ISIS.

Pernyataan Sky tersebut terbukti pada akhir bulan Desember 2013, ketika al-Maliki menerjunkan pasukan keamanan ke Ramadi untuk mengakhiri protes anti-pemerintah. Namun mereka dipukul mundur oleh perlawanan dari suku-suku. ISIS kemudian menyerbu Fallujah pada awal tahun 2014 dan mengumumkan bahwa Fallujah menjadi “Kerajaan Islam” yang berkomitmen untuk membela Sunni dari penindasan al-Maliki.

Kondisi ini membuat Abu Musab al-Zarqawi, yang tak pernah menyembunyikan kebenciannya kepada mayoritas penduduk Irak yang Syiah, mengeksploitasi problem riil dalam evolusi politik Irak, yakni pengambilan institusi negara oleh politisi Syiah yang berlebihan (chauvinistic), yang sebagian dari mereka adalah mata-mata atau agen rahasia Korps Garda Revolusioner Islam Iran (IRGC).

Rencana al-Zarqawi adalah menyerang dan menghantam Syiah di jantung agama, politik, dan militernya untuk membuat mereka membuka jati diri mereka kepada Sunni dan memuntahkan kebencian yang terpendam dalam dada mereka kepada Sunni. Ini dilakukan guna membangkitkan perhatian Sunni akan bahaya Syiah yang sudah dekat.

Cerita tindak sektarian di Irak terjadi pula di Suriah, tentara gerilya Basil yang diprofesionalisasikan, disebut Pasukan Pertahanan Nasional, yang dilatih oleh Pasukan Quds dan Hezbollah Lebanon memuat program anti-Sunni. Program ini telah dijalankan di kota al-Bayda dan beberapa tempat di Baniyas, di wilayah pantai provinsi Tartous. Meskipun al-Bayda dan Baniyas adalah rumah bagi penduduk minoritas Kristen, semua saksi mata Kristen yang berbicara kepada NGO mengatakan bahwa pasukan pro-rezim hanya membunuh orang Sunni dan membakar rumah mereka.

ISIS menjalankan kampanyenya yang lebih belakangan di Syria dan Irak dengan mengikuti pola konflik yang sektarian ini, dengan mengikuti strategi perang al-Zarqawi. ISIS juga mengikuti langkah al-Zarqawi dalam mengincar kelompok Syiah agar orang-orang Syiah membalas (dan bertindak berlebihan) guna membangkitkan kaum Sunni untuk ikut angkat senjata membantu ISIS. Pada bulan Juni 2014, setelah menyerbu Camp Speucher, bekas pangkalan militer Amerika Serikat di Tikrit, para jihadis sesumbar, misalnya, bahwa mereka telah membunuh 1.700 tentara Syiah Irak yang kalah. Angka itu tampaknya dibesar-besarkan. Human Rights Watch mengonfirmasikan adanya tempat pembantaian massal atas warga Syiah dengan jumlah mayat sebanyak lebih dari 770 jenazah. Di Mosul, pada hari ketika ISIS menguasai kota itu, pasukannya menyerbu Penjara Badoush dan menangkap sekitar 1500 tahanan. ISIS kemudian menggiring mereka ke gurun terdekat dan memisahkan orang Sunni dan Kristen dari Syiah. Orang Sunni dan Kristen dibawa dengan truk ke tempat lain; sedangkan orang Syiah dianiaya dan dirampas harta bendanya, kemudian disuruh berbaris dengan berurutan untuk ditembak di tepi jurang setelah mereka menyebut nomor urutnya.

Semakin dekat ISIS akan merealisasikan ambisi teritorialnya, semakin sedikit peran agama yang dimainkan dalam mengajak orang untuk bergabung dengan organisasi ini. Mereka yang mengatakan dirinya adalah pengikut ISIS sebagai proyek politik jumlahnya cukup banyak di kalangan kader dan pendukungnya level bawah. Untuk orang dalam kategori ini, ISIS adalah opsi satu-satunya bagi Sunni Muslim yang mengalami masa-masa muram di dekade sebelumnya—pertama kehilangan kekuasaan di Irak dan kini mengalami penderitaan di Suriah. Terdapat pula mereka yang berafiliasi dengan ISIS bisa dideskripsikan sebagai orang sekuler atau agnostik. Hal ini dikarenakan mereka memandang ISIS adalah satu-satunya kelompok bersenjata yang mampu menyerang rezim dan milisi anti-Sunni di Suriah, Irak, dan negara sekitarnya.

ISIS dengan rasa percaya diri memanfaatkan rasa kekecewaan sektarian dan perasaan terancam ini. Seperti yang ditunjukkan oleh al-Zarqawi kepada Korps Badr pada 2004, al-Bahgdadi kini dapat menunjukkan serangan anti-Sunni yang dilakukan oleh Pasukan Pertahanan Nasional, Asa’ib ahl al-Haq, Hezbollah Lebanon atau Korps Badr di Suriah dan/ atau Irak, dan ia menunjukkannya sebagai bukti bahwa Sunni tidak punya harapan selain mendirikan kekhalifahan. Selama kondisi sektarian ini masih terus berlangsung, maka tampaknya ISIS akan bersama kita tanpa kita tahu batas waktunya.

 

Referensi:

Michael Weiss dan Hassan Hassan. 2015. ISIS the Inside Story. ter. Tri Wibowo BS. Jakarta: Prenada

 

Cek Dabiq 9/56

About

View all posts by